The Observant Club’s Fine (Art) Dining: Food for Thought

Seni, sampai sekarang, masih menjadi hal yang absurd untuk saya. Apa seni itu? Apakah harus dipahami? Atau sekedar dinikmati? Sekitar dua minggu yang lalu, saya diundang untuk ikut serta dalam “The Observant Club’s Fine (Art) Dining”. Acara ini merupakan performative exhibition yang memadukan kuliner dan seni pada saat yang bersamaan. Tujuannya, tidak terlalu muluk – … Read more

Teh yang Membumi di Kedai Lokalti

Kalau ada satu minuman yang dapat merepresentasikan Yogyakarta, itu adalah teh. Sejak saya kecil, teh selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari saya. Minuman teh muncul paling sedikit dua kali sehari di meja makan: satu gelas di pagi hari sebelum berangkat beraktivitas, dan satu gelas lagi di sore hari ketika pulang dari beraktivitas. Teh hangat manis, seakan … Read more

Fusion dan Kuliner Unik yang Semakin Dicari

Meski sempat kehilangan ketenarannya di sekitar tahun 90-an, hidangan fusion kini semakin mudah ditemui, baik di restoran berbintang maupun warung kaki lima. Pada dasarnya, hidangan fusion ini sendiri adalah masakan yang mengkombinasikan beberapa masakan dari budaya yang berbeda, sehingga menghasilkan suatu inovasi masakan baru. Kombinasi ini bisa berupa teknik masaknya, resepnya, hingga bahan yang digunakan. … Read more

Gudeg Manggar dan Isu Kuliner Perlawanan

Belum lama ini, saya menemui tulisan tentang gudeg yang sedikit mengganggu. Seperti yang telah diketahui, gudeg umumnya memang menggunakan bahan dasar nangka muda (gori). Meski begitu, di Bantul juga dapat ditemui gudeg berbahan dasar putik bunga kelapa yang masih muda, atau lazim disebut manggar. Penggunaan bahan dasar lain ini bukanlah suatu masalah karena pada dasarnya … Read more

Uniknya Sushi Vegan “Kurogome Zushi”

Sushi tidak melulu harus dikaitkan dengan ikan mentah. Pada dasarnya, sushi adalah hidangan yang menggunakan nasi fermentasi. Di awal mulanya, sushi memang “dijodohkan” dengan ikan. Namun, seiring berjalannya waktu, nasi fermentasi ini rupanya tetap nikmat tanpa harus selalu hadir bersama ikan. Nasi yang dulunya harus difermentasikan selama satu tahun pun kini dapat dinikmati dengan menggunakan … Read more

TBH: Sirup Lokal Tertua di Yogyakarta

Menjelang bulan puasa, sirup menjadi lebih diminati oleh masyarakat. Di banyak supermarket, sirup bahkan sudah ditata bertumpuk-tumpuk, siap untuk dibeli. Sirup memang lekat dengan kebiasaan di bulan puasa yang berdasar pada saran “berbukalah dengan yang manis”. Di tengah berbagai serbuan sirup nasional, terdapat sirup lokal yang memberikan kekhasan tersendiri. Yogyakarta juga memiliki sirup lokal ini. … Read more

Ayam Bakar 3 Berku: Manisnya Bacem, Gurihnya Santan

Ayam bakar 3 Berku merupakan salah satu ayam panggang yang cukup terkenal di Yogyakarta. Berbeda dengan rasa ayam panggang lainnya yang didominasi oleh rasa manis kecap, ayam bakar Berku memiliki rasa manis yang berdampingan dengan rasa gurih dari santan murni. Ibu Yun Purwanti Kusuma mendirikan usaha ayam bakar ini secara tidak sengaja. Awalnya, ia hanya berniat … Read more

Sushi a la Jawa di Java Sushi

Sushi sering dikaitkan dengan daging ikan mentah. Meski sebagian sushi memang menggunakan daging ikan mentah, namun tidak semuanya begitu. Digawangi oleh Bapak Syambarna, Java Sushi menyajikan sushi yang unik. Bila sebelumnya kita sudah kenal dengan inovasi sushi yang menggunakan kremes atau abon, kini Syambarna mencoba memadukan sushi dengan makanan lokal. Hasilnya? Ada sushi gudeg, sushi … Read more

@eatymologist.id