Kalau ada satu minuman yang dapat merepresentasikan Yogyakarta, itu adalah teh. Sejak saya kecil, teh selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari saya. Minuman teh muncul paling sedikit dua kali sehari di meja makan: satu gelas di pagi hari sebelum berangkat beraktivitas, dan satu gelas lagi di sore hari ketika pulang dari beraktivitas.

Teh hangat manis, seakan berhubungan dengan “kesegaran” badan. Apabila hangatnya, kekentalannya, dan manisnya pas, minuman teh pun beralih menjadi minuman “kesehatan” yang memiliki khasiat mak cleng.

Tapi kebiasaan minum teh di Yogyakarta berbeda dengan minum teh di Inggris sana. Mungkin, kebiasaan minum teh ala Jogja ini justru bisa dibandingkan dengan kebiasaan minum soda di Amerika Serikat. Teh hadir dalam segala situasi: sehabis makan, pemuas dahaga, teman ngobrol, acara formal, suguhan tamu, hingga untuk menghilangkan kantuk atau pusing.

Tidak perlu ramuan teh khusus untuk acara tertentu. “Khasiat” teh camomile, teh jahe, black tea, english breakfast, dan sebagainya bisa diganti dengan satu jenis teh celup favorit. Kalau saya sih suka Dandang.

Nah, teh yang menjadi sangat biasa di keseharian ini rupanya bisa menjadi hal yang menarik untuk ditawarkan. Kedai Lokalti yang terletak di Taman Kuliner mencoba mengemasnya dengan pintar. Tidak, Kedai Lokalti tidak meminta atau mengajarkan tamu bagaimana meminum teh yang benar. Di kedai ini, pengunjung justru diajak untuk menikmati dan “merasakan” berbagai macam teh.

Teh memang menjadi sajian utama. Ini tampak dari atas meja sajinya, di mana aneka merk teh tubruk ditawarkan. Pengunjung dapat memilih teh kesukaannya. Bahkan, apabila mau, pengunjung pun dapat memadukan beberapa jenis teh tubruk untuk menciptakan rasa yang “baru” dan personal.

Untuk membantu pengunjung, para teh peracik di Kedai Lokalti memberikan penilaian terhadap suatu teh dengan menggunakan empat hal, yaitu: keharuman, kepahitan, kesepatan, dan kepekatan warnanya. Sekitar 20 jenis teh tubruk dinilai dan dimasukkan ke dalam menu mereka. Para pengunjung dapat memilih teh seperti apa yang mereka suka, apakah yang kental dengan rasa sepat yang kuat atau yang rasanya ringan dan harum?

Kalau saya sih suka yang kental dan wangi.

Kedai ini juga menawarkan teh yang sudah diracik oleh mereka sendiri, semacam house blend. Ada tiga pilihan: Mantan Manten yang sepat, Lik Yadi yang kental, atau Mbak Winarsih yang ringan. Tak hanya itu, juga ada menu Spesial Solo yang menggunakan berbagai teh produksi kebun teh di daerah Solo dan sekitarnya. Kedai Lokalti juga menyediakan menu white tea dan green tea yang diproduksi oleh kebun teh di Jawa Tengah.

Nah yang menarik bagi saya adalah bagaimana Kedai Lokalti tetap menjadikan teh ini sebagai gaya hidup yang dapat dinikmati oleh kebanyakan warga. Harga dari berbagai hidangan teh ini tak jauh berbeda dengan teh di warung makan pada umumnya, mulai dari Rp 4.000,- saja.

Kedai ini hanya buka di sore menjelang malam dan malam hari. Ini menjadikannya tempat yang cocok untuk melepas penatnya hari, dengan segelas teh yang mak cleng.

Kedai Lokalti
Taman Kuliner Blok R 10, DI, Gejayan, Condongcatur, Yogyakarta
IG:
@kedailokalti