Keluarga besarku suka berkumpul dan makan-makan. Jadi, meski kami semua tinggal di kota yang sama, kami tetap mendedikasikan satu hari dalam sebulan untuk kumpul-kumpul keluarga dan makan siang bersama.

Apalagi sekarang sudah ada tiga bocah kecil yang apabila berkumpul lucu sekali.

Anyway, konsep kumpul-kumpul kami potluck. Setiap keluarga membawa ‘sumbangan’ hidangan, sehingga tidak memberatkan si penerima hajat. 🙂 Nah, seringkali acara seperti ini membuatku ingin memasak dan membawa hidangan hasil masakan sendiri.

Asal tidak pas ribek lo ya…

Kemarin, aku ingin memasak buntut lagi. Karena keinginannya muncul mendadak, maka belanjanya pun mendadak. Jam 8.30 malam baru sampai di supermarket terdekat. Apa daya bahan-bahan banyak yang sudah habis, seperti daun bawang yang esensial.

Rencana pun harus berubah. Aku pun membeli enam potong paha atas ayam (atau kalau dalam bahasa Jawanya disebut tepong), belum tau akan dibuat apa. Tapi yang jelas memasak ayam jauh lebih mudah daripada memasak buntut, dan lebih cepat. Persyaratan ayam tidak banyak.

Sampai rumah, daging ayam pun aku masukkan kulkas dan saatnya berpikir akan dimasak apa ayam itu.

Pagi-pagi sekali, keputusannya sudah ada. Aku akan memasak Ayam Panggang Mentega. Selain karena sudah sejak lama aku ingin mencoba masak ini, bahan-bahan di rumah yang memadai, memasaknya pun tidak membutuhkan waktu lama.

Dan hasilnya…hm, tampak seperti masakan yang rumit. Padahal sih tidak… 🙂