Kami memulai membuat BUMBU Majalah Kuliner dari kesadaran akan kurangnya ruang bagi cerita tentang makanan. Makanan yang kerap kali menjadi pusat dari kehidupan, justru lebih banyak dianggap sebagai sekedar pelengkap saja. 

Memangnya ada apa sih dengan kuliner Indonesia? Seperti kita tahu, Indonesia merupakan negara yang memiliki ratusan suku dan budaya yang hidup berdampingan. Pun budaya kuliner di Indonesia, menjadi teramat beragam dengan pengaruh besar dari sejarah dan masing-masing kebudayaan yang tumbuh di negeri ini. Pengaruh perkembangan jaman serta bercampur-aduknya budaya tersebut turut memberikan pemaknaan-pemaknaan baru pada kuliner terkait relasinya dengan masyarakat.

Nah, BUMBU Majalah Kuliner berusaha mengangkat berbagai cerita kuliner dari masyarakat ini. Tentu saja, “BUMBU” masih kecil dan belum bisa mewakili kesemua keragaman budaya kuliner di Indonesia. Meski begitu, kami bermimpi untuk dapat memberi ruang bagi sebanyak mungkin budaya kuliner yang ada di Indonesia. Bagi kami, kisah dari akar rumput sebenarnya sama berharganya dengan liputan rumah makan ter-hits di metropolitan.

Munculnya artikel di New York Times tentang bagaimana buah-buahan lokal di Thailand direpresentasikan dalam tulisannya (yang banyak mengundang protes), makin membuka mata dan menegaskan pada pentingnya menempatkan kuliner pada akarnya. Ini tak melulu harus dari sisi sejarah atau orisinalitas, namun paling tidak memberikan ruang bagi identitas diri kuliner tersebut di dalam masyarakatnya. Kuliner yang hadir dalam “BUMBU” tak hanya kuliner dengan glorifikasinya. Lebih dari itu, “BUMBU” ingin mengangkat kisah-kisah bagaimana kuliner bermakna dan berperan pada kehidupan seseorang.

Ruh dari kisah-kisah yang dihadirkan berakar pada keberagaman budaya kuliner di keseharian masyarakat Indonesia. Sebisa mungkin, “BUMBU” ingin menjadi corong suara bagi masyarakat dan relasinya dengan kuliner-kuliner di sekitarnya. Cerita-cerita ini dapat menjadi kepingan mozaik yang menggambarkan betapa hidupnya budaya kuliner di Indonesia. Tradisi, inovasi, sejarah, hingga kenangan, semua berkelindan dalam budaya kuliner Indonesia. Dinamika kuliner ini tidak berdiri sendiri namun berelasi erat dengan masyarakatnya.

Majalah independen digital dipilih sebagai media yang paling sesuai untuk jenis kumpulan tulisan ini. Kami tak ingin membuatnya terlalu berat dalam bahasa dan pemikiran, namun tetap padat dan berisi. Terlebih, karena dengan dukungan teknologi masa kini, majalah independen digital menjadi sarana yang praktis.

Kini “BUMBU” menapaki anak tangga baru, melalui kerjasama dengan VITO Perancis untuk menerbitkan edisi-edisinya dalam bahasa Perancis dan diperkenalkan untuk masyarakat Perancis. Melalui kerjasama ini, diharapkan Bumbu dapat menjadi bagian dari wajah budaya kuliner di Indonesia, dan secara tidak langsung juga mempromosikan kuliner serta budaya Indonesia. Kepingan-kepingan kisah di “BUMBU” juga diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk melihat kekayaan budaya kuliner di Indonesia dari kacamata yang lebih luas.

Unduh gratis di sini:

https://eatymologist.com/ebook/bumbu-majalah-kuliner-ed-1/

https://eatymologist.com/ebook/bumbu-majalah-kuliner-ed-2/

https://eatymologist.com/ebook/bumbu-majalah-kuliner-ed-3/

https://eatymologist.com/ebook/bumbu-majalah-kuliner-ed-4/

Untuk edisi bahasa Perancis:

https://indonesie-tourisme.fr/2020/06/29/bumbu-magazine-n1/