Semua bermula dari nasi goreng yang bumbunya kurang merasuk. Seorang tokoh kuliner Indonesia menjelaskan bahwa sejatinya bumbu itu tak harus merasuk. Namun, ini hanyalah salah satu dari aliran memasak yang ada.

Bagi saya, memasak bukanlah hal yang baku. Tidak ada cara memasak yang paling benar karena cara memasak setiap orang bisa saja berbeda. Toh di akhir, semua akan kembali pada selera personal. Dan tak jarang, selera seseorang itu cukup unik.

Contohnya saja, setiap memasak sop, Mr. A selalu bersikeras untuk memasukkan bawang putih setelah sop matang. Dia tidak menumisnya di awal sebelum diberi kaldu agar aroma dan rasa lebih keluar. Beberapa kali saya sempat memberitahunya dengan asumsi dia tidak tahu – tapi tak ada yang berubah. Pernah suatu kali saya memasakkan sop dengan cara masak “wajar” yang saya tahu, tapi Mr. A tetap merasa bahwa cara dia menghasilkan rasa yang lebih enak.

Catatan kecil: Enak menurut dia.

Meski begitu, perlu kita akui bahwa memang ada cara mengolah makanan yang benar. “Benar” di sini memiliki arti bahwa beberapa cara mengolah makanan pada kenyataannya bisa memaksimalkan rasa, aroma dan bahkan kandungan gizi dari bahan-bahan yang kita pakai. Tentu saja, cara memasak ini juga banyak dipengaruhi oleh gaya hidup suatu masyarakat. Cara memasak ini menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat – termasuk di dalamnya ketersediaan bahan yang ada. Cara masak ini merupakan hasil dari proses adaptasi bahan dan lingkungan, serta gaya hidup masyarakat tadi.

Lalu bagaimana dengan kursus-kursus dan sekolah-sekolah masak yang makin banyak bermunculan? Menurut saya, apa yang diajarkan di kursus atau sekolah masak itu merupakan dasarnya. Di sekolah dan kursus, murid diperkenalkan pada logika memasak serta berbagai bahan dan masakan dengan cara pengolahan yang berbeda. Setelah mengetahui dasar dan perbedaan yang ada, mereka sangat mungkin mengembangkan teknik masaknya sendiri-sendiri – dan bahkan mungkin ada yang menemukan terobosan.

Kembali pada nasi goreng yang bumbunya kurang merasuk, sebenarnya bukan hal yang salah. Karena di barat, cara mengolah bahan makanan tidak menempatkan bumbu sebagai yang utama. Bumbu hanyalah pelengkap dari masakan yang menggunakan bahan-bahan yang bagus. Bahan-bahan bagus inilah yang menjadi komponen utamanya, sementara bumbu hanya melapisi. Di cara memasak seperti ini, merasuknya bumbu bisa jadi justu dapat merusak rasa bahan yang segar tadi.

Bagi saya sendiri, tak ada yang salah dari keduanya. Namun kembali lagi pada penjelasan sebelumnya, cara memasak ini tergantung pada gaya hidupnya. Untuk saya, hidup di Indonesia, kerap kali bahan yang tersedia bukanlah bahan yang sangat segar dan bagus. Sangat mungkin, bumbu yang kuat justru dapat merusak bahan yang bagus tadi.