Pernahkah terbayang dulu kala makanan tersaji seperti apa? Perbedaan zaman menyebabkan perbedaan dalam segala hal, mulai dari teknologi, bahan pangan, hingga pengaruh budaya yang hadir di masyarakat pada saat itu. 

Ini menjadikan hadirnya re-kreasi hidangan di era raja-raja Mataram Kuno sangat menarik. Sejak dahulu kala, hidangan raja memang memiliki posisi istimewa di piramida kuliner masyarakat. Karena tak semua orang bisa memiliki kesempatan untuk mencicipinya, membuat hidangan ini semakin spesial.

Di tahun 2016, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah mencoba mengangkat kembali hidangan-hidangan Raja Mataram Kuno. Kuliner-kuliner yang selama ini hanya muncul dalam prasasti-prasasti maupun relief di Candi Borobudur dan Candi Prambanan, dimasak kembali untuk dihidangkan dengan tujuan untuk mencari akar masakan jaman dulu sekaligus menjadi sajian wisata. Adapun prasasti dan relief yang masuk dalam penelitian ini berasal dari abad 9-10 M.

 

 

Dari prasasti dan relief ini terkumpul puluhan masakan yang dulu disajikan sebagai hidangan istimewa. Namun, tak semua masakan tersebut dapat diciptakan ulang di masa ini. Alasannya, adalah pergeseran budaya yang terjadi selama berabad-abad. 

Hidangan Raja, yang disebut pula sebagai rajamangsa atau mahamangsa, memang merupakan makanan istimewa pada masanya. Akan tetapi, hidangan ini belum tentu dapat diterima oleh masyarakat masa kini karena tabu – atau sudah sulit ditemukan bahannya. Makanan seperti kura-kura, kambing bunting, anjing yang dikebiri hingga babi hutan yang dikebiri termasuk beberapa makanan yang menjadi rajamangsa, yang kini dianggap tabu.

 

 

Oleh karenanya, tim dari BPCB menyeleksi dan memilah berbagai data makanan untuk dapat menemukan yang sesuai dengan masa kini. Beberapa hidangan yang akhirnya dapat diciptakan kembali ini adalah hadangan harang (sate lilit daging kerbau), hadangan madhura (daging kerbau masak manis), dundu puyengan (belut dibentuk melingkar), maneka kuluban (sayur-sayuran rebus dengan beragam bumbu), phalamula (umbi-umbian yang direbus dinikmati dengan areh dan air gula), nalaka rasa (minuman sari tebu), jati wangi (minuman sari melati), dan kinca (minuman sari asam). Nama masakan ini sendiri dibuat berdasarkan bahasa Sansekerta.

Dalam menghidupkan kembali kuliner ini tentu tak dapat benar-benar seperti aslinya. Dalam prasasti umumnya hanya disebutkan nama makanan dan bahan utamanya, sementara untuk bumbu dan cara masak yang spesifik tidak dituliskan. Ini membuat tim dari BPCB harus banyak melakukan interpretasi. Lokasi geografis, isi prasasti secara keseluruhan, serta sejarah dan kisah masyarakat di sekitar lokasi menjadi poin penting untuk mendasari interpretasi resep-resep Raja Mataram Kuno.

 

 

Hidangan yang dimunculkan kembali ini sebenarnya tidak hanya dapat dinikmati oleh para raja. Dulunya, Kepala Desa saat penetapan Sima, yaitu saat suatu desa diberikan hak-hak istimewa tambahan, dapat ikut menikmati hidangan istimewa ini.

Kini, hidangan Raja Mataram Kuno diciptakan kembali untuk dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat. Peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk pelestarian dan bahkan pengembangan kuliner-kuliner kuno ini. Tak heran, berbagai kerjasama untuk memperkenalkan dan semakin mempopulerkan hidangan-hidangan ini mulai giat dilakukan.