Munculnya kuliner tradisional sering kali karena keterbatasan. Kebutuhan untuk bertahan hidup kerap menjadikan masyarakat kreatif dalam menyikapi lingkungan setempat. Dalam hal kuliner, apa yang tadinya merupakan solusi dari keterbatasan masyarakat ini justru menjadi kuliner tradisional yang menambah kekayaan kreasi kuliner.

Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, adalah salah satu wilayah yang kuliner tradisionalnya berangkat dari keterbatasan. Kondisi alamnya memang tidak ramah bagi sembarang tanaman. Didominasi oleh perbukitan kapur dan tanah yang tandus membuat hanya tanaman-tanaman tertentu yang dapat tumbuh di wilayah tersebut. Meski air dari pipa-pipa PAM telah menjangkau banyak wilayah di Gunungkidul, di musim kemarau kekeringan masih tetap melanda. Tak jarang sebagian masyarakat masih harus membeli air dari truk-truk tanki air yang datang dari luar Gunungkidul.

Sebelum adanya inovasi padi gogo yang tidak membutuhkan banyak air, padi tidak dapat tumbuh di wilayah Gunungkidul. Airnya kurang banyak. Akibat kurangnya air dan sedikitnya tanaman yang dapat tumbuh, hewan ternak pun jarang dimiliki. Masyarakat kemudian menggantungkan hidupnya pada ketela, salah satu tanaman yang cocok bagi kondisi alam Gunungkidul.

Sama seperti nasi yang saya kenal sebagai makanan sehari-hari, di daerah Gunungkidul ketela menjadi bahan pangan pokok. Ketela diolah dengan cara yang sederhana sehingga dapat disimpan dan bertahan lama – mirip beras.

Gaplek adalah olahan pertama sebelum dapat disimpan dan dinikmati. Untuk mengolah ketela menjadi gaplek, terlebih dahulu ketela harus dikupas dan dijemur di bawah sinar matahari. Agar cepat prosesnya, sering kali ketela dijemur di atas bebatuan sehingga menyerap panas lebih banyak. Nah, ketela yang kering inilah yang disebut gaplek. Setelah menjadi gaplek, ketela kemudian dapat diolah menjadi tiwul.

Tiwul inilah yang menjadi makanan sehari-hari. Gaplek ditumbuk, kemudian tepungnya diberi air dan ditanak. Jadilah tiwul yang rasanya tawar, disajikan dengan lauk sayur-mayur dan belalang. Belalang ini juga merupakan salah satu kekayaan kuliner Gunungkidul yang muncul dari keterbatasan. Bersama belalang, juga muncul hama-hama lain yang juga menjadi makanan masyarakat setempat, seperti kepompong pohon jati.

Tiwul dengan kandungan karbohidrat yang tinggi dan belalang yang merupakan sumber protein menjadi santapan yang penuh gizi. Santapan yang dapat memberi energi bagi masyarakat untuk menjalani hari-harinya.

Kini, naiknya pamor kuliner menjadikan tiwul dan belalang sebagai salah satu makanan yang dicari apabila seseorang sedang berkunjung ke daerah Gunungkidul. Meski nasi putih telah menggeser tiwul sebagai makanan pokok masyarakat setempat, tiwul tetap ada di keseharian mereka, bahkan posisinya di peta kuliner meningkat. Tiwul dikonsumsi bukan lagi sebagai usaha untuk bertahan hidup, tiwul dicari karena keunikannya. Tiwul bahkan kini telah berhasil menjadi salah satu camilan yang menarik berkat usaha Yu Tum untuk membuat tiwul manis di tahun 1985.

Nasi tiwul lengkap dengan lauk sayur-mayur dan belalang atau tiwul manis sebagai camilan bisa dicicipi langsung di toko Yu Tum di Jl. Pramuka, Wonosari. Sementara, kepompong pohon jati dapat dicari di Lesehan Pari Gogo.

Makanan ekstim? Tergantung dari sudut pandangnya ya…